Sabtu, 17 Februari 2018

Rivew Call me by your Name

Film ini adalah sebuah kecelakaan, sudah lama saya tidak menikamati film dngan genere LGBT, Ya dulu saat saya sekolah menengah atas saya pernah beberapakali menikmati film dengan tema LGBT, sejak kuliah sampai sekarang jujur saya sangat menghindarinya,  mungkin karena pegaruh lingkungan yang sedikit mencemoh nya. Beberapa waktu lalu, saya melihat film ini dengan nilai yang cukup bagus entahlah mungkin di ratting 8 . tanpa berfikir panjang saya langsung men-download dan menonton nya tanpa jedah.
                           
Film ini tentang kehidupan seorang pemuda bernama Elio, pria muda dan anak dari seorang professor philosophy dan ibu yang sangat cantik, keluarga Elio bisa dinilai sangat sempurna dari sudut manapun, financial yang cukup  di kota terpencil Italy. Keluarga Elio sangat dinamis dan bersahaja, ibu dan ayah yang sangat menyayanginya, dimana era tahun 1950-an semua kehidupan Elio sudah di nilai lebih dari cukup. Rumah indah yang terletak di kota sepi tapi sangat eksotis dimana pohon-pohon apricot tumbuh.

Keluarga Elio sangat berkecukupan, disini bisa dilihat kalau Elio juga tumbuh dengan sangat bahagia, pendidikan bagus ( hobinya Elio nulis music), dan orang tua yang sangat pengertian.semua begitu sempurna, sampai tiba di satu musim panas.

Ayah Elio yang noatabane seorang professor selalu membawa satu orang murid kesayangannya untuk ikut berlibur di rumah indahnya di Italy, dan ya disini muncul pemeran kedua yang cukup sangat spik dibawakan oleh aktornya. peran aktor kedua yang  bernama Oliver.


 Oliver adalah lelaki yang sangat menyenangkan bahkan sangkling sangat meneyenangkan Elio merasa Oliver adalah sosok yang aneh dan kurang sopan, karena selalu mengucapkan “later” saat akan berpisah atau akan pergi.
Disini  saya belum ngeh kalau film ini bertema kan keterarikan dua tokoh utama yang adalah PRIA. Saya hanya menikmati alur film yang di suguhi pemandangan asri, di tempat pelosok italiy begitu asri dengan khas-khas jaman dahulu.

Film mengalir dengan begitu indah, dimana Elio mulai merasa bahwa Oliver adalah sosok yang benar-benar membuatnya nyaman, mereka bersahabat, menyusuri sungai bersama, tertawa, dan berdebat tentang pengetahuan bahkan sejarah  bersama. Sampai tiba saat nya Elio pria remaja yang sangat manis itu  tidak bisa tidur dengan tenang mulai merasa ada perasaan aneh dengan murid ayahnya Oliver.

Oliver disini digambarkan macho banget,  kahrismatik, serta gampang bergaul terbukti dia langusng dapeti gebetan cewek cantik gak berapa lama tinggal di tempat baru a.k.a rumahnya Elio.
Disini bagi yang gak memahami bagaimana survive dan menghindar untuk dicap sebagai hal-hal tabu pasti merasa bahwa cerita ini ngebosenin,  tapi saya yang memang sempat pernah interest sama kisah LGBT pas sekolah menegah atas, merasa film ini sangat brilliand dan sedikit sesak terbawa suasana hati, bagaimana tidak disini seperti hanya menggambarkan bagaimana perasaan Elio bukan Oliver. Sebagai penonton kadang saya cemas bagaimana kalau Oliver bukan Gay, tapi film ini tidak ingin membuat  hati para penonton rumit. Ya di pertengahan sudah bisa di gambarkan. Oliver juga mencintai Elio walaupun ia sempat mengabaikan nya, karena ia tidak mau menjadi pengaruh buruk untuk keluarga guru yang sangat ia hormati.

Elio dan Oliver menjalani kisah tabu, di era yang mungkin belum kenal apa itu mencintai sesama jenis, tapi Oliver runtuh juga, ia mencium Elio. Ya walau drama-drama percinatan mereka juga di hiasi keanaehan seperti bobok sama cewe (si Elio) yang hatinya padahal pengeni Oliver seutuhnya 




.
Sampai satu saat Elio sendiri yang menyerah, dan ya Oliver juga menyerah mereka memang saling mencintai dan sama-sama menyesal kenapa tidak jujur sejak awal . rasanya gemesin tapi buat blushing juga, dimana adegan-adegan vulgar tidak malu untuk di tampilkan di film ini.

Diakhir film tetap saja, LGBT masih sangat tabu saat itu, Elio harus rela waktu liburan musim panas Oliver yang menginap di rumahnya sudah nyaris selesai berarti “perpisahan” di depan mata, walau  di akhir film masih menghadiahkan penonton liburan akhir yang sangat privat untuk mereka beruda. Tetap saja mereka harus berpisah.

Yang membuat film ini unik sendiri ialah, Oliver adalah orang yahudi. ras mereka yang sangat konserfatif .
Sedangkan Elio adalah keturunan  campuran yang tidak dikenal lagi,separuh itali, yahudi, amerika tapi memiliki oramg tua yang begitu open minded, orang tua Elio bahkan mengetahui bahwa Oliver menyukai Elio sama seperti Elio, dan mereka gak marah. Alias mereka menerma siapapun yang dipilih Elio.  Dan menganggap Oliver bukan pembawa keburukan sama sekali . beneran orangtua idaman terlebih lagi ayah dan ibunya Elio ini memang pembawakan begitu snatai dan penuh pengetahuan. Patut di contoh.

Tapi di akhir film mungkin penggemar harus  bersedih, Oliver memutuskan tidak pernah kembali sejak berakhirnya waktu liburan musim panasnya di rumah ELio.
Ya waktu itu tetap saja LGBT tidak layak dipertahankan,apalagi bag kaum orang-orang terpelajar.
Ada rasa aneh saat menonton film ini, satu bulan pertama rasanya tidak bisa epas saya hanya merasakan perasaan Elio yang haru merelakan Oliver, dibalki kehidupan sempurnanya dia harus di uji dengan cinta sejati yang memiliki gender yang sama.
Dan charisma Oliver yang benar-enar membawakan film ini begitu apik.

Saya beri nilai 9/10 untuk nilai film ini, romantisme yang begitu dalam dan sekaligus begitu ringan. sempurna  namun hanya satu masalah yang membuat nya kacau GENDER. hal yang  cukup megaduk-aduk pikiran dan perasaan saya,
Charisma dari kedua aktor juga sangat baik, film ini masuk kedalam beberapa nominasi dan kalau tidak salah memenangkan Best picture 2017.

PS: Film ini bagaikani lalat di musim panas, datang, harus diabaikan walau tetap menganggu.
film ini dari novel best seller yang denger-denger lebih vulgar lagi dari film nya, saya gak minat baca hihihi


Feby Dyanna xx






Tidak ada komentar:

Posting Komentar