Film ini adalah sebuah kecelakaan, sudah lama saya tidak
menikamati film dngan genere LGBT, Ya dulu saat saya sekolah menengah atas saya
pernah beberapakali menikmati film dengan tema LGBT, sejak kuliah sampai
sekarang jujur saya sangat menghindarinya, mungkin karena pegaruh lingkungan yang sedikit
mencemoh nya. Beberapa waktu lalu, saya melihat film ini dengan nilai yang
cukup bagus entahlah mungkin di ratting 8 . tanpa berfikir panjang saya
langsung men-download dan menonton nya tanpa jedah.
Film ini tentang kehidupan seorang pemuda
bernama Elio, pria muda dan anak dari seorang professor philosophy dan ibu yang
sangat cantik, keluarga Elio bisa dinilai sangat sempurna dari sudut manapun, financial
yang cukup di kota terpencil Italy. Keluarga
Elio sangat dinamis dan bersahaja, ibu dan ayah yang sangat menyayanginya, dimana era tahun 1950-an semua kehidupan Elio sudah di nilai lebih dari
cukup. Rumah indah yang terletak di kota sepi tapi sangat eksotis dimana
pohon-pohon apricot tumbuh.
Keluarga Elio sangat berkecukupan, disini bisa dilihat kalau
Elio juga tumbuh dengan sangat bahagia, pendidikan bagus ( hobinya Elio nulis music),
dan orang tua yang sangat pengertian.semua begitu sempurna, sampai tiba di satu
musim panas.
Ayah Elio yang noatabane seorang professor selalu membawa satu orang murid
kesayangannya untuk ikut berlibur di rumah indahnya di Italy, dan ya disini
muncul pemeran kedua yang cukup sangat spik dibawakan oleh aktornya. peran aktor kedua yang bernama Oliver.
Oliver adalah lelaki yang sangat menyenangkan bahkan sangkling
sangat meneyenangkan Elio merasa Oliver adalah sosok yang aneh dan kurang sopan,
karena selalu mengucapkan “later” saat akan berpisah atau akan pergi.
Disini saya belum
ngeh kalau film ini bertema kan keterarikan dua tokoh utama yang adalah PRIA. Saya
hanya menikmati alur film yang di suguhi pemandangan asri, di tempat pelosok
italiy begitu asri dengan khas-khas jaman dahulu.
Film mengalir dengan begitu indah, dimana Elio mulai merasa
bahwa Oliver adalah sosok yang benar-benar membuatnya nyaman, mereka
bersahabat, menyusuri sungai bersama, tertawa, dan berdebat tentang pengetahuan bahkan sejarah bersama. Sampai tiba saat nya Elio pria remaja yang sangat manis itu tidak bisa tidur dengan tenang mulai merasa
ada perasaan aneh dengan murid ayahnya Oliver.
Oliver disini digambarkan macho banget, kahrismatik, serta gampang bergaul terbukti
dia langusng dapeti gebetan cewek cantik gak berapa lama tinggal di tempat baru a.k.a rumahnya Elio.
Disini bagi yang gak memahami bagaimana survive dan
menghindar untuk dicap sebagai hal-hal tabu pasti merasa bahwa cerita ini
ngebosenin, tapi saya yang memang sempat
pernah interest sama kisah LGBT pas sekolah menegah atas, merasa film ini sangat
brilliand dan sedikit sesak terbawa suasana hati, bagaimana tidak disini
seperti hanya menggambarkan bagaimana perasaan Elio bukan Oliver. Sebagai penonton
kadang saya cemas bagaimana kalau Oliver bukan Gay, tapi film ini tidak ingin membuat
hati para penonton rumit. Ya di
pertengahan sudah bisa di gambarkan. Oliver juga mencintai Elio walaupun ia
sempat mengabaikan nya, karena ia tidak mau menjadi pengaruh buruk untuk
keluarga guru yang sangat ia hormati.
Elio dan Oliver menjalani kisah tabu, di era
yang mungkin belum kenal apa itu mencintai sesama jenis, tapi Oliver runtuh
juga, ia mencium Elio. Ya walau drama-drama percinatan mereka juga di hiasi
keanaehan seperti bobok sama cewe (si Elio) yang hatinya padahal pengeni Oliver
seutuhnya
.
Sampai satu saat Elio sendiri yang menyerah, dan ya Oliver
juga menyerah mereka memang saling mencintai dan sama-sama menyesal kenapa
tidak jujur sejak awal . rasanya gemesin tapi buat blushing juga, dimana
adegan-adegan vulgar tidak malu untuk di tampilkan di film ini.
Diakhir film tetap saja, LGBT masih sangat tabu saat itu,
Elio harus rela waktu liburan musim panas Oliver yang menginap di rumahnya
sudah nyaris selesai berarti “perpisahan” di depan mata, walau di akhir film masih
menghadiahkan penonton liburan akhir yang sangat privat untuk mereka beruda. Tetap
saja mereka harus berpisah.
Yang membuat film ini unik sendiri ialah, Oliver adalah
orang yahudi. ras mereka yang sangat konserfatif .
Sedangkan Elio adalah keturunan campuran yang tidak dikenal lagi,separuh
itali, yahudi, amerika tapi memiliki oramg tua yang begitu open minded, orang
tua Elio bahkan mengetahui bahwa Oliver menyukai Elio sama seperti Elio, dan
mereka gak marah. Alias mereka menerma siapapun yang dipilih Elio. Dan menganggap Oliver bukan pembawa keburukan
sama sekali . beneran orangtua idaman terlebih lagi ayah dan ibunya Elio ini
memang pembawakan begitu snatai dan penuh pengetahuan. Patut di contoh.
Tapi di akhir film mungkin penggemar harus bersedih, Oliver memutuskan tidak pernah
kembali sejak berakhirnya waktu liburan musim panasnya di rumah ELio.
Ya waktu itu tetap saja LGBT tidak layak dipertahankan,apalagi
bag kaum orang-orang terpelajar.
Ada rasa aneh saat menonton film ini, satu bulan pertama
rasanya tidak bisa epas saya hanya merasakan perasaan Elio yang haru merelakan
Oliver, dibalki kehidupan sempurnanya dia harus di uji dengan cinta sejati yang
memiliki gender yang sama.
Dan charisma Oliver yang benar-enar membawakan film ini
begitu apik.
Saya beri nilai 9/10 untuk nilai film ini, romantisme yang
begitu dalam dan sekaligus begitu ringan. sempurna namun hanya satu
masalah yang membuat nya kacau GENDER. hal yang cukup megaduk-aduk pikiran dan perasaan
saya,
Charisma dari kedua aktor juga sangat baik, film ini masuk
kedalam beberapa nominasi dan kalau tidak salah memenangkan Best picture 2017.
PS: Film ini bagaikani lalat di musim panas, datang, harus diabaikan
walau tetap menganggu.
film ini dari novel best seller yang denger-denger lebih vulgar lagi dari film nya, saya gak minat baca hihihi
Feby Dyanna xx